KISAH AL-FARUQ…

بـــــسم الله الرّ حـــــمن الرّحـــــيم

 

Salah satu karakter kuat Sayyidina Umar bin Khattab adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Sayyidina  Umar selalu berpegang dan membela kepada kebenaran dan berjuang melawan  kejahatan seberat apapun itu. Setanpun takut kepada beliau. Berkata Rasulullah SAW, “Demi Allah, setiap kali setan menjumpaimu melintasi sebuah jalan, maka ia mengambil jalan lain yang bukan jalanmu…”

Selain itu, beliau juga dikenal dengan panggilan al-Faruq. Rasulullah memberikan gelar al-Faruq kepadanya, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Dzakwan, seraya dia berkata,” Aku telah bertanya kepada A’isyah, “Siapakah yang memanggil Umar dengan nama al-Faruq?”, maka Aisyah menjawab “Rasulullah SAW”. Diberi julukan nama al-Faruq (sang pembeda), karena di hati beliau telah tertanam Furqon yang artinya pembeda antara yang baik (haq) dan buruk (bathil).

Diriwayatkan nama al-Faruq diberikan Rasulullah SAW kepada Sayyidina Umar bin Khattab RA, pada saat beliau masuk Islam pertama kali, 3 hari setelah paman Rasulullah, Sayyidina Hamzah RA masuk Islam. Setelah mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Rasulullah SAW, para sahabat berteriak, “Allahu Akbar!” sedemikian rupa sehingga orang-orang di Mekah mendengarnya. Sayyidina Umar bin Khattab RA bertanya, “Rasulullah, bukankah kita berada pada jalan kebenaran?” Rasulullah SAW menjawab, “Tentu saja.” Aku berkata, “Rasulullah, mengapa kita menyembunyikannya?”  Lalu setelah itu, Rasulullah SAW beserta para sahabat pergi keluar dalam dua barisan, di salah satu barisan ada Sayyidina Umar bin Khattab RA dan di barisan lainnya ada Sayydina Hamzah RA.  Kegelapan dan kesuraman yang belum pernah menimpa para musyirikin seketika menyelimuti wajah mereka saat itu. Rasulullah SAW, memberi nama kepada Sayyidina Umar bin Khattab RA pada hari itu “al-Faruq” karena Islam, telah ditunjukkan secara terbuka dan pemisahan telah dibuat antara yang benar (haq) dan yang salah (bathil).

Dari sahabat Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW berkata: “Ketika Umar menerima Islam, Jibril AS kemudian turun dan berkata, “Ya Muhammad, penghuni sorga bersukacita dalam penerimaan Umar ke dalam Islam. Ketika Umar menerima Islam, penyembah berhala berkata, ‘Orang-orang telah terbelah dua pada hari ini,” dan Allah menyatakan,”Hai Nabi, Allah cukup bagi Anda, dan siapa pun yang mengikuti Anda dari orang-orang percaya. ” (QS. 8: 64).

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT telah mengalirkan kebenaran melalui lidah Umar dan hati Umar”. (Ahmad, Turmudzi dan Abu Dawud) dan kemudian berkata lagi : “Kalau saja ada seorang nabi setelah aku maka dialah Umar”. (Ibnu Abdul Bar).

Anaknya Sayyidina Umar (Abdullah) berkata, ”Apa yang pernah dikatakan oleh ayahku (Umar) tentang sesuatu maka kejadiannya seperti apa yang diperkirakan oleh ayahku”.

Diriwayatkan, setelah meraih kemenangan besar di Perang Badr, kaum muslimin menawan sejumlah pasukan dari pihak musyrikin, Rasulullah saw mengadakan musyawarah bersama para sahabatnya. Sayyidina Umar bin Khattab RA berpendapat agar dibunuh saja tawanan perang tersebut, adapun Sayyidina Abu Bakar RA berpendapat mengambil ganti rugi. Akhirnya Rasulullah SAW memilih pendapat yang paling mudah diantara dua pendapat yang jatuh pada pendapatnya Sayyidina Abu Bakar RA. Setelah itu Jibril AS turun kepada Rasulullah saw untuk membacakan ayat Al-Quran yang mendukung pendapat Sayyidina Umar bin Khattab RA, Allah berfirman : “Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya dimuka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil”. (QS. Al-Anfal : 67-68). Setelah mendengar ayat tersebut maka Rasulullah SAW dan Sayyidina Abu Bakar RA pun menangis, kemudian Sayyidina Umar bin Khattab datang dan menanyakan sebab mereka berdua menangis, lalu keduanya kemudian memberitahukannya.

Diriwayatkan pula, pada suatu ketika beliau ber­sama Rasulullah SAW berada di dekat Ka’bah, Rasulullah SAW lalu menunjukkan kepadanya maqam Ibra­him. Seketika Sayyidinia Umar bertanya apakah di situ boleh dilakukan shalat. Rasulullah SAW menjawab bahwa hal itu belum diperintahkan. Lalu pada hari itu juga turun wahyu yang memperbolehkan untuk shalat di maqam Ibrahim. Pada saat yang lain, Sayyidina Umar mengusulkan kepada Rasulullah SAW agar memerintahkan isteri-isterinya menggunakan hijab (tirai), maksudnya agar berbicara de­ngan tamu-tamunya dari belakang hijab sebab menurut Sayyidina Umar, yang berbicara dengan mereka bukan semuanya orang baik-baik melainkan ada juga orang jahat. Tidak lama kemudian turunlah ayat tentang hijab yang membenarkan pendapat Umar itu.

`Umar al-Faruq adalah sahabat kedua setelah Abu Bakar as-Siddiq dalam kedekatannya dengan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW berkata: “Aku punya dua pendamping dari penghuni sorga dan dua pendamping dari penduduk bumi. Yang pertama adalah malaikat Jibril dan Mika’il, dan yang terakhir adalah Abu Bakar dan `Umar…” Rasulullah berkata, “Mereka berdua adalah  pendengaran dan penglihatan saya…” dan memerintahkan kepada para sahabat: “Ikuti mereka yang datang setelah saya, yaitu Abu Bakar dan Umar”

Gallery | This entry was posted in Great Companions of Rasulullah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s