CAHAYA FATIMAH AZ ZAHRA…

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِالرَّحِيْـــــــمِ

FATIMAH AZ ZAHRA, salah satu dari 4 Penghulu Wanita di Syurga…

Fatimah (sa) adalah salah seorang puteri Rasulullah SAW. Ia merupakan wanita yang paling mulia kedudukannya dan beliau adalah salah satu dari 4 penghulu wanita yang dipilih oleh Allah SWT (Fatimah Az Zahra, A’isyah istri Fir’aun, Maryam binti ‘Imran ibunda nabi Isa AS, serta Khadijah binti Kuwalid istri Rasulullah SAW).

Rasulullah SAW berkata kepada putrinya,

“Berbahagialah. Demi Allah, engkau adalah penghulu kaum perempuan penghuni surga.”

Bertanya Aisyah (sa) kepada ayahnya, “Lalu bagaimana kedudukan A’isyah binti Muzahim istri Fir’aun dan Maryam binti ‘Imran (ibunda nabi Isa AS)?”. Rasulullah SAW kemudian menjawab,

 “Aisyah (istri Fir’aun) adalah penghulu kaum perempuan pada zamannya, demikian pula Maryam binti ‘Imran. Sementara engkau adalah penghulu kaum perempuan pada zamannya. Kalian  berada di rumah dari emas yang disitu tidak ada penderitaan, kegaduhan dan kelelahan,” jawab Rasulullah. Selanjutnya beliau bersabda, “Cukuplah dengan anak pamanku. (maksudnya ‘Ali ibn Abi Thalib KW). Demi Allah, aku telah menikahkanmu dengan penghulu di dunia dan di akhirat.”

Kemuliannya diperoleh sejak menjelang kelahirannya, ketika kelahirannya ditolong oleh 4 wanita suci.  Bahkan sejak masih dalam kandungan Fatimah (sa) sudan memiliki beberapa kharamah. Diantaranya adalah Fatimah (sa) sering menghibur dan mengajak bicara ibunya sejak beliau masih dalam kandungan.

 Rasulullah SAW bersabda:

“Jibril AS datang kepadaku dengan membawa buah apel dari surga, kemudian aku memakannya lalu aku berhubungan dengan Khadijah, lalu ia mengandung Fatimah.”

Khadijah RA berkata:

“Aku hamil dengan kandungan yang ringan. Ketika engkau keluar rumah, bayi dalam kandunganku mengajakku berbicara. Ketika aku akan melahirkan bayiku, aku mengirim utusan pada perempuan-perempuan Quraisy untuk dapat membantu melahirkan bayiku, tetapi mereka tidak mau datang, bahkan mereka berkata: Kami tidak akan datang untuk menolong isteri Muhammad. Maka ketika itulah datang 4 perempuan berwajah cantik dan bercahaya, dan salah satu dari mereka berkata: Aku adalah ibumu Hawa’; yang satu lagi berkata: Aku adalah Asiyah binti Muzahim; yang lain berkata: Aku adalah Kaltsum saudara perempuan Musa; dan yang lain lagi berkata: Aku adalah Maryam binti Imran ibunda Isa. Kami datang untuk menolong urusanmu ini. Kemudian Khadijah berkata: Maka lahirlah Fatimah dalam kedaan sujud dan jari-jarinya terangkat seperti orang sedang berdoa.” (Dzakhâir Al-‘Uqbâ, halaman 44)

Menjelang usia 5 tahun, Fatimah (sa) ditinggal wafat oleh ibunda tercintanya. Sehingga ia harus menggantikan posisi ibunya, membantu dan menolong Rasululah SAW, sehingga ia mendapat gelar Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Tidak jarang Fatimah (sa) menyaksikan ayahnya disakiti orang-orang kafir Quraisy. Ia tabah dan bersabar saat-saat menyaksikan ayahnya menghadapi ujian yang berat akibat perilaku orang-orang kafir Quraisy.

Gelar AZ ZAHRA’  bagi Fatimah (sa)

Abban bin Tughlab pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Mengapa Fathimah digelari Az-Zahra’? Ia menjawab:

“Karena Fathimah (sa) memacarkan cahaya pada Ali bin Abi Thalib tiga kali di siang hari.”

Pertama, ketika ia melakukan shalat sunnah di pagi hari, dari wajahnya memancar cahaya putih sehingga cahayanya memancar dan menembus ke kamar banyak orang di Madinah, sehingga dinding rumah mereka diliputi cahaya putih. Mereka heran atas kejadian itu, lalu mereka datang kepada Rasulullah SAW dan menanyakan apa yang mereka saksikan. Kemudian Rasulullah SAW menyuruh mereka datang ke rumah Fathimah. Lalu mereka mendatanginya, dan ketika sampai di rumahnya, mereka melihat Fathimah sedang shalat di mihrabnya. Mereka melihat cahaya di mihrabnya, cahaya itu memancar dari wajahnya, sehingga mereka tahu bahwa cahaya yang mereka saksikan di rumah mereka adalah cahaya yang terpancar dari wajah Fathimah (sa).

Kedua, yaitu ketika Fathimah (sa) melakukan shalat sunnah di tengah hari. Cahaya kuning memancar dari wajahnya, cahaya itu menembus ke kamar rumah orang banyak, sehingga pakaian dan tubuh mereka diliputi oleh cahaya berwarna kuning. Lalu mereka datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya tentang apa yang mereka saksikan. Rasulullah SAW pun menyuruh mereka datang ke rumah Fathimah (sa). Saat itu mereka melihat beliau sedang berdiri dalam shalat sunnah di mihrabnya, dengan cahaya kuning yang memancar dari wajahnya, ayahnya, suaminya dan anak-anaknya. Sehingga mereka tahu bahwa cahaya yang mereka saksikan itu adalah berasal dari cahaya wajah Fathimah (sa).

Ketiga, yaitu ketika Fathimah (sa) melakukan shalat sunnah di punghujung siang saat mega merah, yaitu ketika matahari telah tenggelam. Saat itu, wajah Fathimah (sa) memancarkan cahaya merah sebagai tanda bahagia dan rasa syukur kepada Allah Azza wa Jalla. Cahaya itu menembus ke kamar orang banyak sehingga dinding rumah mereka memerah. Mereka heran atas kejadian itu. Kemudian mereka datang lagi kepada Rasulullah SAW dan menanyakan kejadian tersebut. Rasulullah SAW menyuruh mereka datang ke rumah Fathimah (sa). Ketika sampai di rumah Fathimah, mereka melihat beliau sedang duduk bertasbih dan memuji Allah, lalu mereka melihat cahaya merah memancar dari wajahnya. Sehingga mereka tahu bahwa bahwa cahaya yang mereka saksikan itu berasal dari cahaya wajah Fathimah (sa). Cahaya-cahaya itu selalu memancar di wajahnya, dan cahaya itu diteruskan oleh putera dan keturunannya yang suci hingga hari kiamat.” (Bihârul Anwar 43: 11, hadis ke 2)

Fatimah (sa) digelari penghulu semua wanita…

Fatimah (sa) mendapat gelar penghulu semua perempuan (sayyidatu nisâil ‘alamîn). Aisyah RA berkata: Fatimah (sa) datang kepada Rasulullah SAW dengan berjalan seperti jalannya Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW mengucapkan: “Selamat datang duhai puteriku.” Kemudian beliau mempersilahkan duduk di sebelah kanan atau kirinya, kemudian beliau berbisik kepadanya. Lalu Fatimah menangis. Kemudian Rasulullah SAW bertanya: “Mengapa kamu menangis?” Kemudian Rasulullah SAW berbisik lagi kepada Fatimah. Lalu Fatimah tertawa dan berkata: “Aku tidak pernah merasakan bahagia yang paling dekat dengan kesedihan seperti hari ini.” Lalu aku (Aisyah) bertanya kepada Fatimah tentang apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW. Fatimah menjawab: “Aku tidak akan menceritakan rahasia Rasulullah SAW ini sampai beliau wafat.” Aku bertanya lagi kepadanya, lalu ia berkata: (Rasulullah SAW berbisik kepadaku):

“Jibril berbisik kepadaku (Rasulullah SAW), Al-Qur’an akan menampakkan padaku setiap setahun sekali, dan ia akan menampakkan padaku tahun ini dua kali, aku tidak melihatnya kecuali datangnya ajalku, dan engkau adalah orang pertama dari Ahlul baitku yang menyusulku.” Lalu Fatimah menangis. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Tidakkah kamu ridha menjadi penghulu semua wanita ahli surga atau penghulu semua isteri orang-orang yang beriman?” (Shahih Bukhari, kitab Awal penciptaan, bab tanda-tanda kenabian dalam Islam; Musnad Ahmad 6: 282, hadis ke 25874)

Gallery | This entry was posted in Great Women in Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s